Saturday, June 28, 2014

Waspada Demam Berdarah!

Kamis, 19 Juni 2014, setelah Raphita pulang sekolah (kebetulan hari terakhir sekolah menjelang penerimaan raport), kami sekeluarga berangkat menuju Bogor. Tujuannya memang ingin berlibur. Kami tiba di sana sudah malam, sehingga aktivitas malam itu hanya makan malam lalu kembali ke hotel tempat kami menginap. Jumat pagi, kami menuju The Jungle di kawasan Bogor Nirwana Residence karena anak-anak ingin berenang dan nonton 4D Theatre di sana. Kami kembali ke hotel sekitar pukul 4 sore, dan malam itupun hanya berjalan-jalan di sekitar hotel untuk membeli makan malam.

Siapa sangka, Sabtu pagi, Raphita terbangun dengan kondisi tubuh sangat panas! Beruntung, di depan hotel tempat kami menginap ada sebuah apotik. Suami saya segera ke apotik untuk membeli Sanmol dan Celestamine (karena biasanya jika panas setinggi itu indikasi amandel Raphita bengkak, dan kedua obat itu adalah yang selalu diresepkan oleh DSA-nya). Tapi setelah diminumkan, panasnya nggak kunjung turun. Saya mulai panik ...

Kami segera check out dari hotel dan menuju rumah orangtua saya di Jakarta Timur, karena ibu saya adalah seorang mantan perawat. Ternyata pada waktu dicek, suhu badan Raphita mencapai 40,6 derajat Celcius! Seketika saya langsung panik. Gimana kalau dia step? Gimana kalau panas tubuhnya merusak otak? Gimana kalau .. gimana kalau ..

Ibu langsung bertindak, memberikan obat turun panas yang diberikan melalui anus. Setelah setengah jam ditunggu, suhu tubuhnya turun hanya ke angka 39,2 lalu naik lagi ke 39.6 dan manteng di 39,9 derajat Celcius. Malam itu, ibu menunggui Raphita sementara saya sukses tidur! (Ibu macam apa pula, tapi jujur saya memang lelaaah sekali sampai-sampai nggak sanggup lagi untuk 'melek' menjaga Raphita).

Minggu pagi, saya curiga pada bintik-bintik merah yang muncul di sekitar lengan Raphita, yang awalnya tidak ada. Ibu langsung mengambil alat tensi, lalu melakukan prosedur Rumple Leed. Memang ada beberapa bintik merah lagi yang muncul, dan ibu menyarankan untuk membawa Raphita segera ke Rumah Sakit.

Akhirnya kami membawa Raphita ke Ciputra Hospital, yang dekat dengan tempat tinggal kami di Citra Raya-Tangerang. Saat itu saya sudah siap dengan kemungkinan Raphita harus dirawat karena demam berdarah. Karena dokter spesialis anaknya sedang cuti, maka kami langsung membawa Raphita ke IGD.

Dokter Jaga di IGD segera menanyakan kronologis panas Raphita, lalu menyarankan untuk melakukan cek darah rutin dan NS1 (pengecekan darah untuk mendeteksi apakah ada virus Dengue di dalam darahnya). Setelah satu jam menunggu, hasil cek darah menyatakan bahwa di dalam darah Raphita positif ada virus Dengue-nya. Kadar trombositnya pun sudah mulai turun, dari normalnya 150.000 ke atas menjadi tinggal 139.000.

Malamnya, DSA-nya, dr. Hendra Widjaja SPA, datang lalu memeriksa Raphita. Beliau pun menjelaskan apa itu virues Dengue. Ternyata, virus Dengue adalah virus yang selama ini kita tahu dibawa oleh nyamuk Aedes Aegypti. Tapi vires Dengue ini  bisa mengakibatkan Demam Dengue (DD) atau Demam Berdarah Dengue (DBD).

Demam Dengue (DD), tidak berbahaya. Gejala Demam Dengue (DD) adalah :
Demam tinggi mendadak 2-7 hari, dengan gejala penyerta :
Nyeri kepala
- Nyeri belakang bola mata
- Nyeri otot dan nyeri sendi
- Flushing ( muka panas kemerahan), ruam kulit
- Mual, muntah
- Nyeri perut, karena ada pembengkakan hati.
- Perdarahan ( bintik-bintik merah di kulit)
- Manifestasi Leukopenia (jumlah angka lekosit di bawah nilai normal).
- Angka Trombosit masih dalam rentang normal, atau menurun(Trombositopenia)

Demam Berdarah Dengue (DBD), bisa berbahaya bahkan mengakibatkan kematian. Gejala Demam Berdarah Dengue (DBD) sama dengan gejala Demam Dengue (DD) tapi ada perbedaan tambahan :

Perbedaan utama DD dan DBD adalah pada DBD ditemukan adanya kebocoran cairan darah pada pembuluh darah, yang menyebabkan darah mengental.
Adanya kebocoran cairan darah ini ditunjukkan dengan nilai hematokrit yang meningkat (Hemokonstrasi)

- DBD I : hemokonsentrasi, angka trombosit turun.
- DBD II : hemokonsentrasi, trombositopenia, perdarahan spontan ( mimisan, gusi berdarah, muntah darah, kencing darah, berak darah)
- DBD III :  menuju kearah shock
- DBD IV : SHOCK, bila tidak tertangani : kematian. 
1) http://www.pantirapih.or.id/index.php/component/content/article/159-demam-dengue-dan-demam-berdarah-dengue

Karena perbedaan tersebut, dr. Hendra menyarankan untuk cek darah ulang di hari Selasa (hari ke-3 sejak pertama panas) untuk melihat apakah kadar trombositnya semakin turun. Jika hanya Demam Dengue (DD) biasa, trombosit tidak akan turun drastis, tapi jika Demam Berdarah Dengue (DBD) maka trombosit pasti sudah di bawah angka 100.000. 

Hari Selasa, akhirnya dilakukan pengecekan darah rutin, dan hasilnya positif Raphita menderita Demam Berdarah Dengue karena trombosit turun ke angka 79.000. Dokter pun menyarankan supaya Raphita banyak minum, karena dengan asupan cairan yang banyak akan mencegah trombosit turun dengan drastis sehingga mengakibatkan kebocoran (ditandai dengan hematokrit naik). 

Yang menyebalkan dari penyakit ini adalah penderita akan merasakan mual yang hebat. Orang dewasa saja akan kewalahan mengatasi rasa mualnya, terlebih anak-anak. Akibatnya, Raphita tidak mau minum apalagi makan. Cairan yang masuk hanya sedikit sekali. Dalam 1 hari, minumnya tidak sampai 100 cc. Akibatnya bisa diduga, hasil cek darah keesokan harinya kadar hematokrit-nya meningkat. Artinya sudah ada kebocoran, plasma darahnya sudah merembes keluar. Ini yang bisa mengakibatkan perdarahan, shock dan suhu tubuh turun drastis. Apabila ini terjadi, maka sangat berbahaya karena bisa mengakibatkan kematian. 

Pada kasus di mana seorang penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) tidak tertolong dan meninggal dunia, biasanya karena terlambat mengetahui gejalanya. Sehingga pada saat datang ke dokter mungkin kondisinya trombosit sudah rendah, hematokrit naik, atau mungkin sudah ada perdarahan dan suhu tubuh drop. 

Akhirnya, untuk mencegah hematokrit semakin naik, Raphita harus diberi banyak cairan. Satu-satunya cara, jumlah infus ditambah. Mulai dari 90 ml/jam hingga ke 150 ml/jam. dr. Hendra memberitahu supaya kami nggak kaget karena seluruh tubuh Raphita akan bengkak akibat cairan yang dimasukkan ke tubuhnya. Saya hitung-hitung, dalam satu hari jumlah infus yang masuk mencapai hampir 4 liter!

Sediiiih sekali melihat tubuh Raphita mulai bengkak. Dari wajahnya, perutnya, tangannya, pahanya, kakinya. Sehingga dia hanya bisa miring ke sebelah kanan. Tidak bisa telentang, tidak bisa duduk, membuat saya teringat pada kondisi waktu hamil 9 bulan. Raphita hanya bisa merintih karena rasa sakit pada perutnya, belum lagi rasa gatal akibat rush/ruam kemerahan yang mulai muncul di tubuhnya.



Setiap mandi, saya berdoa dan menangis. Saya memohon supaya Raphita bisa bertahan. Tiap kali dia merintih, saya berbisik di telinganya, menciumnya, dan memintanya untuk kuat dan bersabar. Karena setelah hari ke-6, setelah trombositnya mulai naik dan hematokrit-nya mulai turun, maka dokter akan memberikan obat untuk megeluarkan semua cairan dari tubuhnya melalui urine/air kencingnya.

Hari ke-4, 5 dan 6 adalah hari-hari terberat dalam hidup saya dan Raphita. Menyaksikan dia menderita seperti itu, sementara saya tidak bisa menolong selain berusaha memberikan rasa nyaman dengan mengelus perutnya yang sakit atau menggaruk kakinya yang gatal. 



Hari ke-5, Raphita mulai sesak napas karena cairan infus mulai memenuhi rongga dadanya. Paru-parunya mulai terendam. Semakin sakiiit rasanya melihat dia sulit bernafas. Akhirnya saya meminta suster untuk memasangkan oksigen, dan Raphita pun bisa bernafas sedikit lebih lega setelah diberi bantuan oksigen.

Hari ke-7 pagi, Raphita diambil darah lagi. Menunggu hasil cek darah rasanya seperti mau mati. Tegang bukan main. Dalam pikiran saya, bagaimana kalau ternyata hematokritnya belum turun? Sementara perut Raphita semakin besaaar, dia semakin sesak napas. Ah, mengingatnya saja membuat saya berkaca-kaca ...

Puji Tuhan, hasil cek darah hari itu hematokrit Raphita mulai turun. Akhirnya Raphita diberikan obat untuk mengeluarkan cairan dari tubuhnya, jumlah infus pun diturunkan. Satu hari itu Raphita buang air kecil banyaaaak sekali. Dalam satu kali buang air, bisa mencapai 400 cc. Dan dalam satu hari, bisa mencapai 1,8 liter. 

Hari ke-8, tubuh Raphita makin menyusut. Jumlah infus akhirnya benar-benar diturunkan dari awalnya 150 ml/jam menjadi 90 ml/jam menjadi 8 ml/jam! Obat pun diberikan menjadi 3x per hari karena hematokrit-nya sudah di angka aman. 

Puji Tuhan, legaaa sekali melihat akhirnya Raphita dicabut infusnya, hanya menggunakan selang oksigen karena masih sesak napas. Hari ke-9, Raphita pun diperbolehkan pulang.

Perjalanan penyakit yang buat saya dan Raphita tentunya, panjaaaaang .. menyakitkan .. menyebalkan. Tapi siklus Demam Berdarah Dengue (DBD) memang seperti itu. Jadi yang harus dilakukan jika anak kita, atau kita sendiri, mengalami gejala-gejala Demam Dengue/Demam Berdarah Dengue, saran saya : jangan menganggap remeh! Karena sedikit saja kita lengah, bisa berakibat fatal.

Demikian sedikit sharing dari saya yang mudah-mudahan bermanfaat ...